RSS

(lagi) #vampirgalau

  1. Malam makin pekat. Udara dingin terasa padat. Dibalik cermin kusam #vampirgalau terlihat gusar dengan kulit yang makin memucat.
  2. Ada apa rupanya? Tak cukupkah darah basi yg diminum hari ini? Masihkah rasa sakit datang saat pandangi nadi berdenyut itu? #vampirgalau
  3. Bukan karena itu. Belasan purnama tanpa itu bukan alasan #vampirgalau terlihat kacau. Ia bingung dengan rasa. Limbung dengan fakta.
  4. Was-was kutukan itu benar berujud. Cemas setiap rasa yang dipupuk berujung layu lalu tiada. Ragupun berbuih. #vampirgalau
  5. Dari balik cermin kusam #vampirgalau kembali lihat sosok pucat bermata kosong. Entah berapa purnama akan dilewati sebelum semua akhir.
  6. Sekian dongeng #vampirgalau hari ini. Jangan percaya pada apa yg terbaca. Tapi boleh diuji apa yang terasa. Nite all. :-)

My Twitter @gugunku

29 Maret 2011

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 30, 2011 in Kisah kasih

 

Kenapa Takut dibilang #banci?

Hufft.. Bogor gerah amat malam ini. Daripada susah tidur, mending posting yg pernah saya tulis di blog. Kenapa takut di bilang banci?

  1. Saya lahir di lingkungan yg sangat bedakan laki2 & perempuan dlm hal2 “tidak masuk akal”. Saya memang gampang sakit bila kehujanan.
  2. Karena itu nenek selalu membekali saya dg payung kesayangannya. Payung panjang warna hitam. Di sekolah, bbrp teman mengolok2.
  3. Mereka merebut payung tsb lalu payung dioper ke teman yg lain. Saya menangis, kata bu guru : “Jgn cengeng, temanmu hanya bercanda..”
  4. Saya jadi bahan cemoohan sepupu karena cara berpakaian. Nenek dandani saya dg kemeja lengan panjang & celana bahan yg disetrika licin.
  5. Rambut saya diminyaki & tersisir rapi. Nenek bilang kita harus rapi, biar dihormati. Tapi teman2 malah mengacak2 hingga berantakan.
  6. Kemeja saya ditarik keluar kemeja hingga terlepas. Lagi-lagi saya menangis, bibi dan paman hanya geleng-geleng kepala…
  7. Saya selalu membantu nenek mencuci piring, membersihkan rumah & halaman. Pernah ibu-ibu tetangga memergoki saya sedang mencuci piring.
  8. Mereka berbisik-bisik, tapi tetap saja saya bisa mendengarnya; “Anak laki-laki cuci piring??? Sekalian aja pake rok.. hahahaha”
  9. Kebiasaan bawa payung, menangis, pakaian rapi & bantu nenek cuci piring itu pernah bikin sy dibilang banci. Sy marah, malu & tertekan.
  10. Tapi itu dulu, sekarang tdk lagi. Bukan berarti sy sdh jadi banci benaran. Bukan! Sy sekarang jauh berbeda dg belasan tahun dulu.
  11. Saya masih tetap membawa payung kemana-mana (tentunya yang berukuran kecil dan muat dalam tas), secara Bogor khan kota hujan.
  12. Sy masih menangis (diam2) bila kangen dg ibu yg telah meninggal. Sy masih berpakaian rapi (sewajarnya) tanda sy hargai orang lain.
  13. Dan sampai kapanpun sy akan tetap cuci piring (untuk nenek saya yang sudah renta). Tak ada satupun kebiasaan itu akan sy rubah.
  14. Sy tdk lagi marah, tertekan or malu bila ada yg bilang sy banci karena bawa payung, menangis, ato cuci piring. Hal yg “tak masuk akal”

So nggak usah takut di bilang #banci hanya karena melakukan hal yg tadi. Coz its so yesterday! Be yourself. Hoaaaaam. Nite all.

My Twitter @gugunku

21 Maret 2011

 

 
2 Comments

Posted by pada Maret 30, 2011 in Uncategorized

 

Kenapa aku suka #Bogor?

  1. Kemana2 deket. Khan #bogor kota kecil.
  2. Bisa pilah pilih angkot sesuai selera saking banyaknya. Sampai2 ada yg bilang #Bogor kota angkot. tapi kadang bikin macreeeet!
  3. Adem! Eits jangan protes dulu. Emang sih skrg #Bogor sering panas juga. Tapi tetap lebih adem dari Jakarta secara ini #kotahujan.
  4. Bicara soal hujan, di #Bogor lah phobia saya ama hujan, petir, kilat & sejenisnya sembuh total. Di kota yg dulu sering ngadeg-deg.
  5. Di #Bogor lah saya mengenal dia, mencintai tanpa syarat lalu kehilangan untuk selamanya. #curcol #itusaja

My Twitter @gugunku

17 Maret 2011

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 30, 2011 in Uncategorized

 

Kicau #vampirgalau di tengah malam

  1. Suatu masa di negeri antah berantah ada sewujud vampir yg kesepian.
  2. Berbeda dg vampir yg lain, ia bertahan bukan dari darah manusia, tapi binatang.
  3. Si vampir tidak sampai hati membunuh manusia. Apalagi menjadikan mereka seperti dirinya.
  4. Karena ia tau bagaimana rasanya jadi vampir. Sepi sendiri kemudian terbakar mati.
  5. Suatu hari sang vampir jatuh berjumpa sewujud vampir muda. Bukan! Dia bukan vampir, hanya menyerupai.
  6. Sang penyerupa vampir menyatakan rasa. Sang vampir tak menampiknya. Tapi waktu berjalan, sang penghalang datang.
  7. Sang penghalang mengancam, sang vampir bimbang dan ingin sang penyerupa kembali jadi manusia. Karena jadi vampir
  8. Karena jadi vampir tidak akan membawa kemanapun, tanpa tujuan dan akhirnya mati sia-sia. Kalaupun kau bertahan hidup
  9. Kalaupun bertahan, sang vampir akan jadi makhluk abadi yg bosan dg kekekalan lalu memilih tantang matahari terbakar mati
  10. Demikian dongeng sang vampir hari ini. Vampir tua sok bimbang dan labil biar disangka alay! Arrrgh. Saatnya mencari darah hewan!

My Twitter @gugunku

12 Maret 2011.

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 30, 2011 in Uncategorized

 

Tahukah Engkau?

TAHUKAH engkau, mengapa Tuhan menciptakan ruang-ruang kosong di antara jemari kita? Karena suatu saat, orang-orang yang tulus menyayangimu akan memenuhi ruang itu dengan memegang erat tanganmu. Selamanya.

Benny Arnas


 
Leave a comment

Posted by pada Maret 3, 2010 in Uncategorized

 

Saya melakukan apa yg nenek pernah lakukan dulu

saya ingat kejadian saat kecil dulu.
saya demam tinggi karena kehujanan sepulang sekolah.
sekujur tubuh saya menggigil, tapi badan saya panas, kepala sakit sekali.
nenek melepas semua baju saya dan mengusap dengan waslap hangat
lalu nenek membalur dengan minyak kayu putih.
mulai dari ujung kaki, tangan, seluruh badan, leher dan dahi.
nenek lalu memeluk saya, membuat saya tertidur di badanya yang hangat
sayapun berkeringat, nenek mengusap peluh di dahi saya
membisikkan bahwa saya akan segera sembuh
menyenandungkan lagu nina bobo
dan sayapun tertidur
ketika saya bangun, saya jadi lebih baik

**************************

hari ini saya melakukan apa yang dulu pernah dilakukan nenek pada saya, …. padamu
mendengkurlah dan biarkan jantung saya merasakan detak jantungmu

Margonda, 20/11/09. 11.33 wib

 
Leave a comment

Posted by pada November 20, 2009 in Kisah kasih

 

Kaitkata: , , , , , , , , , ,

Aku mulai takut menjadi tua

Ada yang meramal bahwa tahun 2012 nanti umurku 50 tahun! Terlepas dari ramalan itu benar atau salah, yang jelas akan bertambah 3 tahun. Itupun kalau sang pemberi hidup masih memperbolehkan aku tetap bernapas. Yang pasti setiap bertambahnya umur maka  jatah hidup semakin berkurang.

Banyak tanda-tanda yang sudah mulai terasa dengan bertambahnya usia. Rambut yg tadinya hitam lebat bak mayang terurai kini mulai rontok dan beruban bak rambut jagung. Kulit muka yg licin bak porselen cina, kini mulai kusam dan kendor di sana-sini. Otot-otot yang terpahat di lengan, paha dan dada, berganti lemak bak kantong air yang bergoyang. Tubuh tak lagi sekel dan sendi-sendi sering terasa gilu. Mungkin aku agak lebay, tapi itu nyata seiring bertambahnya usia.

Kata orang hidup dimulai di umur 50 tahun, eh… 40 apa 30 ya?. Lalu apa yang sudah aku punya? Rumah? Kendaraan? Tanah? Deposito? Bisnis? Istri? Anak? Karir yang bagus? Status sosial? Apa? Aku tak begitu mengkhawatirkan itu (mungkin karena sebagian sudah ku dapatkan). Tapi terus terang aku tetap mulai takut menjadi tua. Dan aku lebih takut menjadi tidak lagi berguna.

Parung, 17/11/09. 16.25 wib, selepas menelpon nenek yang mulai sensitif sejak tak lagi bisa melihat.

 
Leave a comment

Posted by pada November 17, 2009 in umum

 

Tiap detik sangatlah berharga

Pengalaman nyeri dada kiri membuat saya semakin alert terhadap kesehatan. Awalnya hanya berupa rasa pegal (keseleo) di punggung kiri, lalu merambat ke leher terus berpindah ke dada kiri. Mendadak dada saya seperti ditekan beban berat. Saya jadi susah bernapas. Walau telah mencoba menarik napas dalam2, tapi tetap tidak ada udara yg masuk. Dengan panik saya mengambil napas dg membuka mulut lebar2, tersengal2. Bayangan akan kehabisan napas memenuhi kepala. Saya tidak akan pergi dg cara seperti ini. Mata menjadi merah dan berair. Saya lalu memukul2 dada kiri, terbatuk, dan saat itu juga udara kembali masuk ke paru2. Tiap detik sangatlah berharga.

Saya sadar betul tidak mungkin selalu bersamanya. Tidak saja karena ikatan itu, tapi juga karena umur tdk ada yg tau. Ketika bertemu saya sangat menghargai setiap detik yang tersisa. Saya tak ingin terlelap karena inilah waktu yang saya punya. Mendengkurlah, saya akan tetap terjaga.

Bogor, 17.11.09. 01.35 wib

 
Leave a comment

Posted by pada November 17, 2009 in Uncategorized

 

Nenek (akhirnya) buta. :-(

Nenek sudah lama menderita penyakit gula, sejak saya masih di sekolah mencinta pertama (smp). Saat saya menemani beliau ke dokter dan divonis menderita diabetes, nenek hanya tersenyum dan mengajak segera pulang. “Ayo. Sudah waktunya makan siang” ia setengah menyeret tangan saya tergesa.

Kami mampir ke rumah makan padang yang cukup ramai siang itu. Nenek memesan gulai otak, rendang daging, goreng paru, lengkap dengan sambal merah dan sambal hijau. Saya hanya memesan ikan mas goreng dan lalap timun, tanpa sambal.“Menumu kok seperti makanan orang sakit saja?”. “Nggak papa, nek”. Saya melihat nenek makan dengan lahap seakan vonis dokter bukan sesuatu yang mengkhawatirkan.

Setelah positif diabetes, nenek mulai sering jatuh sakit . Mulai dari penyakit ringan sampai berat. Istilah-stilah seperti rematik, jantung berdebar, darah tinggi, kolesterol, asam urat, luka yang susah sembuh menjadi istilah umum bagi beliau. Tapi pola makannya tetap tidak berubah. Ketika dilarang makan durian, beliau berkilah “Tenang saja, saya sudah punya obatnya”.

Beberapa tahun terakhir nenek menderita katarak. Operasi pengangkatan katarak tidak berhasil 100%. Selaput putih itu muncul lagi dan muncul lagi. Dokter kembali mengingatkan untuk lebih menjaga pola makan tapi nenek tetap tidak berubah.

Dua hari yang lalu saya dikabari bahwa penglihatan nenek mulai berkurang. Nenek tidak bisa melihat walau dalam jarak dekat sekalipun. Seperti berkabut, katanya. Operasi yang dilakukan tidak mampu mengembalikan penglihatan beliau. Nenek sekarang tidak bisa melihat sama sekali.

Saya menelpon ke rumah, menanyakan kabar beliau dan apa yang dirasakan. Namun saya tidak bisa menyembunyikan suara saya yang parau. Terus terang saya sangat mengkhawatirkannya. Alih-alih saya akan menenangkan beliau, malah nenek yang akhirnya menghibur saya,

“Nggak papa, Gun. Kalaupun sekarang nenek buta, toh nenek khan sudah melihat lebih dari 80 tahun.”

 
Leave a comment

Posted by pada November 16, 2009 in Uncategorized

 

Mengekang Rasa Sayang

Di sebuah kebun kecil, hiduplah dua ekor kupu-kupu
Kupu-kupu yang berwarna cerah dan yang berwarna agak gelap
Mereka hidup di sela-sela rumpun bunga
Terbang ke sana kemari dengan riang gembira
Mereka saling menyayangi

Suatu hari kupu-kupu yang berwarna cerah
Bertemu kupu-kupu yang lain, mereka sangat senang
Mereka terbang ke sana kemari dengan riang gembira
Tak kenal lelah, tak merasa capek

Si kupu-kupu berwarna agak gelap hanya mengawasi
Kadang ikut senang karena si cerah tampak bahagia
Tapi pada suatu hari….
Ia melihat si kupu-kupu cerah mulai tampak lelah

Ia tak mau terjadi apa-apa dengan si cerah, ia sayang padanya
Iapun memcoba mengingatkan tapi si cerah tak mengubris
Si cerah terus terbang berputar-putar tak terkendali
Si gelap terus mengawasi, menjaga jarak
Karena tak mau si cerah merasa di batasi

Senayan, November 06, 2009. 3.43 pm

By : H

 
Leave a comment

Posted by pada November 6, 2009 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.